Ketika saya berpikir bahwa agama saya yang paling benar, dan agama kamu tidak, maka saya sudah memenjarakan diri saya sendiri, di dalam penjara yang busuk.
Ketika ada orang yang berkata bahwa agama saya tidak benar, dan saya menanggapinya, maka saat itu juga saya gagal menjalankan imanat agung Tuhan kepada manusia, yaitu kasih, toleransi, kebaikan, dan pengertian.
Ketika saya tidak dihargai karena penampilan fisik saya yang berbeda dari mayoritas penduduk Indonesia, dan saya merasa tersinggung, maka saya harus mengingatkan kepada diri saya sendiri, bahwa belum semua orang mencapai tahapan saling menghargai satu sama lain tanpa menghakimi.
Tuhan itu kasih.
Bentuk kasih paling besar dan mulia yang ada ialah kasih Tuhan.
Pernah, suatu hari saya ngobrol dengan seorang teman, dia bercerita bahwa dia bosan dengan kehidupannya, lelah dengan semua yang ada, rasanya hidup itu hanya sekedar rutinitas, tidak ada menariknya sama sekali. Saya tidak bisa banyak berkomentar, saya hanya bisa jadi pendengar yang sangat baik, membantu dia untuk meringankan sedikit beban hatinya.
Di akhir percakapan, saya mengucap: hey, semangat! Tuhan cintaaa banget lho sama kamu..
Dia menatap saya dengan pandangan kosong, dan menjawab: Iyaa.. Trus gimana dengan saya? Apakah saya sudah cukup mencintai Tuhan?
Saya baru sadar, ternyata dengan segala banyak jenis agama dan tata cara yang tidak sederhana, dengan semua doktrin yang kita miliki, dengan beribu-ribu hafalan ayat kitab suci, berjuta-juta jam doa, sujud syukur, dan dengan semua pengorbanan untuk melakukan perjalanan rohani, kita lupa.
Kita lupa bahwa esensi hubungan Tuhan dengan manusia adalah "intense relationship" atau hubungan yang intim (bukan dalam arti badani) antara Sang Pencipta dengan ciptaanNya. Sebuah pola yang sederhana, tapi dibikin rumit.
Bagaimana mungkin kita bisa menyamakan cinta Tuhan dengan cinta manusia? Tuhan itu maha sempurna, semua yang dari Dia PASTI sempurna, termasuk kasihNya kepada kita, begitu besar dan sempurna, bahkan lebih dari cukup untuk menopang kita menjalani hari demi hari di dunia yang penuh masalah ini.
Dari kasih yang sempurna ini, kita belajar dan dimampukan untuk mencintai juga. Mencintai Tuhan, diri sendiri, dan orang lain. Cinta kita manusia, tidak akan pernah sempurna, akan selalu ada cacatnya. Tapi ingat, Tuhan itu melihatnya selalu sikap hati kita, Dia Sang Penyelidik hati manusia.
Sebagai umat beragama, saya malu. Saya malu apabila saya gembar gembor agama saya apa, dan mati-matian berjuang untuk agama dan Tuhan saya, padahal saya sama sekali tidak memiliki kasih dalam hati.
Maaf temanku, tapi Tuhan tidak perlu dibela, karena Dia Hakim yang Agung. Hakim tidak perlu pembela. Jujur, ketika ada orang berkata, "saya ini membela Tuhan, kitab suci dan agama!" Saya heran, karena yang perlu bantuan pembelaan itu adalah kita, manusia yang penuh dosa ini lho. Tuhan tidak perlu dibela, kitab suci dan agama juga tidak perlu, karena mereka semua tidak ada dosanya. Agama dosa apa? Kitab suci dosa apa? Tuhan apalagi..
Tuhan hanya perlu dibantu. Dibantu untuk meneruskan kasihNya dalam bentuk toleransi, kebaikan, dan pengertian.
Tuhan hanya perlu dibantu. Dibantu untuk meneruskan kasihNya dalam bentuk toleransi, kebaikan, dan pengertian.
Bagi saya, bentuk kasih yang paling dasar adalah ketika saya bisa meletakkan kepentingan orang lain, diatas ego saya. Saat saya mengalah dan rela menanggung sakit demi yang saya cintai. Pada waktu saya dengan sadar, rendah hati, dan ikhlas menunjukkan rasa sayang saya terhadap orang yang sudah menyakiti saya. Bagi saya, itu adalah hal yang terindah yang saya bisa lakukan sebagai umat Tuhan, lepas dari agama apapun.
Belajar kasihNya itu caranya bagaimana? Dekat selalu dengan Tuhan, cari Dia, minta Dia untuk menjadi pokok dalam hidup kita. Belajarlah dari Sang Maha Guru. Tuhan itu kasih yang sempurna.
Coba kita berkaca sebentar;
Berapa banyak konflik yang bisa kita hindari apabila kita mengutamakan kasih?
Berapa banyak nyawa yang tidak perlu berkorban sia-sia, jika kita memiliki kasih dalam hati kita?
Betapa indahnya hidup, apabila semua manusia tahu, kasih itu seperti apa?
No comments:
Post a Comment